Sosok

Foto saya
Alumni Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo 2005, Alumni ISID (Institut Studi Islam Darussalam) Fakultas Ushuluddin Jurusan Aqidah Filsafat 2009. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Jurusan Kedokteran Umum UNISSULA (Universitas Islam Sultan Agung) Semarang Angkatan 2010.

Selasa, 18 Januari 2011

Makna Filsafat

Kita mulai dengan terminologi. Istilah ‘filsafat’ atau ‘falsafah’ dalam bahasa Indonesia
diserap dari bahasa Arab: فلسفة. Ia merupakan pengaraban dari kata majmuk φιλοσοφία
(philosophia) yang dalam bahasa Yunani kuno gabungan dari kata philein (cinta) dan
sophia (kearifan). Apa makna ‘sophia’ dijelaskan oleh Aristoteles: “Biasanya sophia
dipahami sebagai pengetahuan mengenai pokok-pokok perkara dan sebab-sebabnya
(οτι µην ουν η σοϕια περι τινας αρχας και αιτιας εστιν επιστηµη δηλον).”1

Oleh para cendekiawan Romawi dan tokoh-tokoh Gereja istilah ‘sophia’ diterjemahkan dalam bahasa Latin menjadi ‘sapientia’, dari kata kerja sapere yang artinya mengetahui.
Definisinya seperti dikemukakan oleh Thomas Aquinas: “Sapientia adalah pengetahuan
yang membahas sebab-sebab utama dan sebab-sebab umum; sapientia meneliti sebab-
sebab inti dari segala sebab (sapientia est scientia quae considerat causas primas et
universales causas; sapientia causas primas omnium causarum considerat)”.2

Demikianlah istilah ‘filsafat’ berarti ilmu pengetahuan yang dicapai manusia
dengan akal pikirannya. Para filsuf/filosof mempelajari aneka persoalan alam semesta,
langit, bumi, manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, mineral dan lain sebagainya. Mereka
adalah kelompok orang-orang yang di zaman sekarang kita panggil sebagai saintis. Betul,
filsuf adalah saintis, karena waktu itu belum dikenal pemisahan dan pembedaan sempit
seperti yang kita kenal saat ini antara filsafat dan sains, antara filsuf dan saintis, antara
ahli biologi dan ahli geologi, antara ahli fisika dan ahli kimia. Bahkan sehingga zaman
Isaac Newton (1642-1727), kajian mengenai fenomena-fenomena alam yang kini kita
namakan ‘fisika’ masih disebut ‘filsafat alam’. Simaklah judul karya monumentalnya:
Philosophiae naturalis principia mathematica –prinsip-prinsip matematis dari filsafat
alam (1687). Adapun istilah ‘scientia’ dan turunannya (science, scienza, sains) dalam arti
yang sempit baru marak digunakan sejak dua abad terakhir ini.3

Sebagai akibatnya, istilah filsafat mengalami pengerucutan hingga akhirnya
dimaknai tak lebih dari sekadar kajian spekulatif terhadap asal-usul dan pokok-pokok
yang mendasari sesuatu. Lalu ketika dihubungkan dengan cabang ilmu tertentu, filsafat
kemudian diartikan sebagai perenungan dan uraian menyeluruh lagi mendalam tentang
persoalan-persoalan asasi, prinsip-prinsip dan hukum-hukum dalam ilmu yang
bersangkutan. Muncullah istilah filsafat ilmu matematika, filsafat ilmu fisika, filsafat
ilmu biologi, filsafat ilmu pendidikan, filsafat ilmu ekonomi, dan lain sebagainya. Situasi
ini bertambah buruk menyusul kampanye anti-metafisika yang dimotori pengusung ‘logical positivism’ alias ‘logical empiricism’ semacam Bertrand Russell, Alfred Jules
Ayer, Ludwig Wittgenstein, dan Rudolph Carnap.4

Bagi mereka, filsafat bukanlah ilmu tentang Tuhan, alam dan manusia yang kini sudah dikapling-kapling menjadi teologi, fisika, biologi, kimia, psikologi, antropologi, sosiologi, ekonomi dan sebagainya itu, akan tetapi uraian logis serta matematisasi bahasa yang digunakan oleh ilmuwan sebagai medium penyampai pengetahuan. Inti doktrin mereka tersimpul dalam ungkapan Wittgenstein yang masyhur itu: ‘Wovon man nicht sprechen kann, darüber muß man schweigen’.5

Namun, kalau kita ikuti pendapat mereka ini niscaya tokoh-tokoh semacam
Plato dan Aristoteles pun tak layak disebut filsuf, sebab hanya mereka sajalah yang
pantas digelar filsuf.

1 Aristoteles, Ta meta ta physika, terj. H. Tredennick (Cambridge, MA, 1980), I.i.17/982a.
2 Th. Aquinas, In Metaphysicam Aristotelis Commentaria, ed. M.-R. Cathala (Turin, 1926), I, ii. Bandingkan dengan definisi Christian Wolff dalam bukunya, Philosophia rationalis sive logica methodo scientifica pertractata et ad usum scientiarum atque vitae aptata. Praemittitur discursus praeliminaris de philosophia in genere (Frankfurt, 1728), §1: “filsafat adalah ilmu tentang segala sesuatu yang mungkin sebagaimana adanya, atau mengapa dan bagaimana yang mungkin itu mungkin (philosophia est scientia possibilium quatenus esse possunt, sive cur et quomodo sint possibilia).”
3Lihat Ann Blair, “Natural Philosophy” dalam The Cambridge History of Science: Early Modern Science, ed. Roy Porter et al., vol. (Cambridge: Cambridge University Press, 2006), 365ff.
4Lihat Logical Positivism in Perspectives
5Ludwig Wittgenstein, Logische-Philosophische Abhandlung, 7 = Tractatus Logico-philosophicus,7.

1 komentar: