Sosok
- ilyu rozzaq
- Alumni Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo 2005, Alumni ISID (Institut Studi Islam Darussalam) Fakultas Ushuluddin Jurusan Aqidah Filsafat 2009. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Jurusan Kedokteran Umum UNISSULA (Universitas Islam Sultan Agung) Semarang Angkatan 2010.
Minggu, 23 Januari 2011
Worldview (Pandangan Hidup)
Cara manusia memandang dan mensikapi apa yang terdapat dalam alam semesta bersumber dari beberapa faktor yang dominan dalam kehidupannya. Faktor itu boleh jadi berasal dari kebudayaan, filsafat, agama, kepercayaan, tata nilai masyarakat atau lainnya. Luasnya spektrum pandangan manusia tergantung kepada faktor dominan yang mempengaruhinya. Cara pandang yang bersumber pada kebudayaan memiliki spektrum yang terbatas pada bidang-bidang tertentu dalam kebudayaan itu. Cara pandang yang berasal dari agama dan kepercayaan akan mencakup bidang-bidang yang menjadi bagian konsep kepercayaan agama itu. Ada yang hanya terbatas pada kesini-kinian, ada yang terbatas pada dunia fisik, ada pula yang menjangkau dunia metafisika atau alam diluar kehidupan dunia. Terma yang dipakai secara umum untuk cara pandang ini dalam bahasa Inggeris adalah worldview (pandangan hidup) atau dalam bahasa Jerman adalah weltanschauung (filsafat hidup) atau weltansicht (pandangan dunia)
Selasa, 18 Januari 2011
Hikmah atau Falsafah?
Dalam tradisi intelektual Islam, kita temukan tiga istilah yang umum dipakai untuk
‘sophia’. Pertama, hikmah: istilah ini dipakai oleh generasi awal pemikir Muslim sebagai
padanan kata ‘sophia’. Kata ini tampaknya sengaja dipilih supaya lebih mudah diterima
oleh kaum Muslim supaya terkesan bahwa filsafat itu tidak bertentangan dengan ajaran
Islam akan tetapi justru berhulu dan bermuara pada al-Qur’an. Al-Amiri, misalnya,
menulis bahwa hikmah berasal dari Allah, dan diantara manusia yang pertama dianugrahi
hikmah oleh Allah ialah Luqman al-Hakim. Disebutnya ketujuh filsuf Yunani kuno
sebagai ahli hikmah (al-hukama’ as-sab‘ah) –yaitu Thales, Solon, Pittacus, Bias,
Cleobulus, Myson dan Chilon.6 Demikian juga al-Kindi yang menerangkan bahwa secara
harfiah kata ‘falsafah’ artinya hubb al-hikmah (cinta pada kearifan).7 Pandangan yang
kurang lebih sama ditegaskan Ibn Sina dalam buku filsafat yang ditulisnya: hikmah
adalah kesempurnaan jiwa manusia tatkala berhasil menangkap makna segala sesuatu dan
mampu menyatakan kebenaran dengan pikiran dan perbuatannya sebatas kemampuannya
sebagai manusia (istikmal an-nafs al-insaniyyah bi tashawwur al-umur wa t-tashdiq bi lhaqa’iq
an-nazhariyyah wa l-‘amaliyyah ‘ala qadri thaqat al-insan). Siapa berhasil
menggapai ‘hikmah’ beginilah yang mendapat anugerah kebaikan berlimpah, ujar Ibn
Sina.8 Namun demikian, tidak semua orang setuju dengan istilah ini. Di antara yang
paling keras menentangnya ialah Imam al-Ghazali. Menurut hemat beliau, para filsuf
telah membajak lafaz ‘hikmah’ untuk kepentingan mereka, padahal ‘hikmah’ yang
dimaksud dalam kitab suci al-Qur’an bukan filsafat, melainkan Syari‘at agama yang
diturunkan Allah kepada para nabi dan rasul.9
Yang kedua adalah falsafah, istilah yang dimasukkan ke dalam kosakata Arab
melalui terjemahan karya-karya Yunani kuno. Al-Kindi termasuk yang mempopulerkan
istilah asing ini melalui karyanya Fi al-Falsafah al-Ula (Tentang Filsafat Utama).
Menurut beliau, filsafat adalah ilmu yang mempelajari hakikat segala sesuatu sebatas
kemampuan manusia. Filsafat teoritis bertujuan menemukan kebenaran, sedangkan
filsafat praktis bertujuan mengarahkan prilaku kita agar selaras dengan kebenaran.
Berfilsafat itu berusaha meniru perilaku Tuhan. Filsafat adalah upaya manusia mengenal
dirinya, tambah al-Kindi. Abu Hayyan at-Tawhidi mencatat tak kurang dari enam
definisi filsafat.Sementara kumpulan cendekiawan yang menamakan diri mereka
Ikhwan al-Shafa’ (boleh jadi nama ini merupakan terjemahan bebas namun puitis dari
philosophoi – kawan-kawan ‘sophia’) berkata: ‘Permulaan filsafat itu suka kepada ilmu
[yakni rasa ingin tahu]. Langkah berikutnya adalah mengetahui hakikat segala sesuatu
sesuai dengan kemampuan manusia. Adapun puncaknya adalah berkata dan berbuat
sesuai dengan apa yang diketahui (al-falsafah awwaluha mahabbatu l-‘ulum, wa
awsathuha ma‘rifatu haqa’iqi l-mawjudat bi-hasabi t-thaqati l-insaniyyah wa akhiruha
al-qawl wa l-‘amal bi-ma yuwafiqu l-‘ilma)’.
Ketiga, istilah ‘ulum al-awa’il yang secara harfiah berarti ‘ilmu-ilmu orang
terdahulu’. Istilah ini mengandung makna negatif, terutama ketika dipakai oleh penulispenulis
sejarah dari kalangan ahli hadits seperti ad-Dzahabi dan Ibn Hajar al-‘Asqalani.
Disebut demikian, lantaran yang dimaksud adalah ilmu-ilmu yang berasal dari peradaban
kuno pra-Islam seperti India, Persia, Yunani dan Romawi, yakni ilmu-ilmu logika,
matematika, fisika, kedokteran, astronomi dan lain sebagainya.
‘sophia’. Pertama, hikmah: istilah ini dipakai oleh generasi awal pemikir Muslim sebagai
padanan kata ‘sophia’. Kata ini tampaknya sengaja dipilih supaya lebih mudah diterima
oleh kaum Muslim supaya terkesan bahwa filsafat itu tidak bertentangan dengan ajaran
Islam akan tetapi justru berhulu dan bermuara pada al-Qur’an. Al-Amiri, misalnya,
menulis bahwa hikmah berasal dari Allah, dan diantara manusia yang pertama dianugrahi
hikmah oleh Allah ialah Luqman al-Hakim. Disebutnya ketujuh filsuf Yunani kuno
sebagai ahli hikmah (al-hukama’ as-sab‘ah) –yaitu Thales, Solon, Pittacus, Bias,
Cleobulus, Myson dan Chilon.6 Demikian juga al-Kindi yang menerangkan bahwa secara
harfiah kata ‘falsafah’ artinya hubb al-hikmah (cinta pada kearifan).7 Pandangan yang
kurang lebih sama ditegaskan Ibn Sina dalam buku filsafat yang ditulisnya: hikmah
adalah kesempurnaan jiwa manusia tatkala berhasil menangkap makna segala sesuatu dan
mampu menyatakan kebenaran dengan pikiran dan perbuatannya sebatas kemampuannya
sebagai manusia (istikmal an-nafs al-insaniyyah bi tashawwur al-umur wa t-tashdiq bi lhaqa’iq
an-nazhariyyah wa l-‘amaliyyah ‘ala qadri thaqat al-insan). Siapa berhasil
menggapai ‘hikmah’ beginilah yang mendapat anugerah kebaikan berlimpah, ujar Ibn
Sina.8 Namun demikian, tidak semua orang setuju dengan istilah ini. Di antara yang
paling keras menentangnya ialah Imam al-Ghazali. Menurut hemat beliau, para filsuf
telah membajak lafaz ‘hikmah’ untuk kepentingan mereka, padahal ‘hikmah’ yang
dimaksud dalam kitab suci al-Qur’an bukan filsafat, melainkan Syari‘at agama yang
diturunkan Allah kepada para nabi dan rasul.9
Yang kedua adalah falsafah, istilah yang dimasukkan ke dalam kosakata Arab
melalui terjemahan karya-karya Yunani kuno. Al-Kindi termasuk yang mempopulerkan
istilah asing ini melalui karyanya Fi al-Falsafah al-Ula (Tentang Filsafat Utama).
Menurut beliau, filsafat adalah ilmu yang mempelajari hakikat segala sesuatu sebatas
kemampuan manusia. Filsafat teoritis bertujuan menemukan kebenaran, sedangkan
filsafat praktis bertujuan mengarahkan prilaku kita agar selaras dengan kebenaran.
Berfilsafat itu berusaha meniru perilaku Tuhan. Filsafat adalah upaya manusia mengenal
dirinya, tambah al-Kindi. Abu Hayyan at-Tawhidi mencatat tak kurang dari enam
definisi filsafat.Sementara kumpulan cendekiawan yang menamakan diri mereka
Ikhwan al-Shafa’ (boleh jadi nama ini merupakan terjemahan bebas namun puitis dari
philosophoi – kawan-kawan ‘sophia’) berkata: ‘Permulaan filsafat itu suka kepada ilmu
[yakni rasa ingin tahu]. Langkah berikutnya adalah mengetahui hakikat segala sesuatu
sesuai dengan kemampuan manusia. Adapun puncaknya adalah berkata dan berbuat
sesuai dengan apa yang diketahui (al-falsafah awwaluha mahabbatu l-‘ulum, wa
awsathuha ma‘rifatu haqa’iqi l-mawjudat bi-hasabi t-thaqati l-insaniyyah wa akhiruha
al-qawl wa l-‘amal bi-ma yuwafiqu l-‘ilma)’.
Ketiga, istilah ‘ulum al-awa’il yang secara harfiah berarti ‘ilmu-ilmu orang
terdahulu’. Istilah ini mengandung makna negatif, terutama ketika dipakai oleh penulispenulis
sejarah dari kalangan ahli hadits seperti ad-Dzahabi dan Ibn Hajar al-‘Asqalani.
Disebut demikian, lantaran yang dimaksud adalah ilmu-ilmu yang berasal dari peradaban
kuno pra-Islam seperti India, Persia, Yunani dan Romawi, yakni ilmu-ilmu logika,
matematika, fisika, kedokteran, astronomi dan lain sebagainya.
Makna Filsafat
Kita mulai dengan terminologi. Istilah ‘filsafat’ atau ‘falsafah’ dalam bahasa Indonesia
diserap dari bahasa Arab: فلسفة. Ia merupakan pengaraban dari kata majmuk φιλοσοφία
(philosophia) yang dalam bahasa Yunani kuno gabungan dari kata philein (cinta) dan
sophia (kearifan). Apa makna ‘sophia’ dijelaskan oleh Aristoteles: “Biasanya sophia
dipahami sebagai pengetahuan mengenai pokok-pokok perkara dan sebab-sebabnya
(οτι µην ουν η σοϕια περι τινας αρχας και αιτιας εστιν επιστηµη δηλον).”1
Oleh para cendekiawan Romawi dan tokoh-tokoh Gereja istilah ‘sophia’ diterjemahkan dalam bahasa Latin menjadi ‘sapientia’, dari kata kerja sapere yang artinya mengetahui.
Definisinya seperti dikemukakan oleh Thomas Aquinas: “Sapientia adalah pengetahuan
yang membahas sebab-sebab utama dan sebab-sebab umum; sapientia meneliti sebab-
sebab inti dari segala sebab (sapientia est scientia quae considerat causas primas et
universales causas; sapientia causas primas omnium causarum considerat)”.2
Demikianlah istilah ‘filsafat’ berarti ilmu pengetahuan yang dicapai manusia
dengan akal pikirannya. Para filsuf/filosof mempelajari aneka persoalan alam semesta,
langit, bumi, manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, mineral dan lain sebagainya. Mereka
adalah kelompok orang-orang yang di zaman sekarang kita panggil sebagai saintis. Betul,
filsuf adalah saintis, karena waktu itu belum dikenal pemisahan dan pembedaan sempit
seperti yang kita kenal saat ini antara filsafat dan sains, antara filsuf dan saintis, antara
ahli biologi dan ahli geologi, antara ahli fisika dan ahli kimia. Bahkan sehingga zaman
Isaac Newton (1642-1727), kajian mengenai fenomena-fenomena alam yang kini kita
namakan ‘fisika’ masih disebut ‘filsafat alam’. Simaklah judul karya monumentalnya:
Philosophiae naturalis principia mathematica –prinsip-prinsip matematis dari filsafat
alam (1687). Adapun istilah ‘scientia’ dan turunannya (science, scienza, sains) dalam arti
yang sempit baru marak digunakan sejak dua abad terakhir ini.3
Sebagai akibatnya, istilah filsafat mengalami pengerucutan hingga akhirnya
dimaknai tak lebih dari sekadar kajian spekulatif terhadap asal-usul dan pokok-pokok
yang mendasari sesuatu. Lalu ketika dihubungkan dengan cabang ilmu tertentu, filsafat
kemudian diartikan sebagai perenungan dan uraian menyeluruh lagi mendalam tentang
persoalan-persoalan asasi, prinsip-prinsip dan hukum-hukum dalam ilmu yang
bersangkutan. Muncullah istilah filsafat ilmu matematika, filsafat ilmu fisika, filsafat
ilmu biologi, filsafat ilmu pendidikan, filsafat ilmu ekonomi, dan lain sebagainya. Situasi
ini bertambah buruk menyusul kampanye anti-metafisika yang dimotori pengusung ‘logical positivism’ alias ‘logical empiricism’ semacam Bertrand Russell, Alfred Jules
Ayer, Ludwig Wittgenstein, dan Rudolph Carnap.4
Bagi mereka, filsafat bukanlah ilmu tentang Tuhan, alam dan manusia yang kini sudah dikapling-kapling menjadi teologi, fisika, biologi, kimia, psikologi, antropologi, sosiologi, ekonomi dan sebagainya itu, akan tetapi uraian logis serta matematisasi bahasa yang digunakan oleh ilmuwan sebagai medium penyampai pengetahuan. Inti doktrin mereka tersimpul dalam ungkapan Wittgenstein yang masyhur itu: ‘Wovon man nicht sprechen kann, darüber muß man schweigen’.5
Namun, kalau kita ikuti pendapat mereka ini niscaya tokoh-tokoh semacam
Plato dan Aristoteles pun tak layak disebut filsuf, sebab hanya mereka sajalah yang
pantas digelar filsuf.
1 Aristoteles, Ta meta ta physika, terj. H. Tredennick (Cambridge, MA, 1980), I.i.17/982a.
2 Th. Aquinas, In Metaphysicam Aristotelis Commentaria, ed. M.-R. Cathala (Turin, 1926), I, ii. Bandingkan dengan definisi Christian Wolff dalam bukunya, Philosophia rationalis sive logica methodo scientifica pertractata et ad usum scientiarum atque vitae aptata. Praemittitur discursus praeliminaris de philosophia in genere (Frankfurt, 1728), §1: “filsafat adalah ilmu tentang segala sesuatu yang mungkin sebagaimana adanya, atau mengapa dan bagaimana yang mungkin itu mungkin (philosophia est scientia possibilium quatenus esse possunt, sive cur et quomodo sint possibilia).”
3Lihat Ann Blair, “Natural Philosophy” dalam The Cambridge History of Science: Early Modern Science, ed. Roy Porter et al., vol. (Cambridge: Cambridge University Press, 2006), 365ff.
4Lihat Logical Positivism in Perspectives
5Ludwig Wittgenstein, Logische-Philosophische Abhandlung, 7 = Tractatus Logico-philosophicus,7.
diserap dari bahasa Arab: فلسفة. Ia merupakan pengaraban dari kata majmuk φιλοσοφία
(philosophia) yang dalam bahasa Yunani kuno gabungan dari kata philein (cinta) dan
sophia (kearifan). Apa makna ‘sophia’ dijelaskan oleh Aristoteles: “Biasanya sophia
dipahami sebagai pengetahuan mengenai pokok-pokok perkara dan sebab-sebabnya
(οτι µην ουν η σοϕια περι τινας αρχας και αιτιας εστιν επιστηµη δηλον).”1
Oleh para cendekiawan Romawi dan tokoh-tokoh Gereja istilah ‘sophia’ diterjemahkan dalam bahasa Latin menjadi ‘sapientia’, dari kata kerja sapere yang artinya mengetahui.
Definisinya seperti dikemukakan oleh Thomas Aquinas: “Sapientia adalah pengetahuan
yang membahas sebab-sebab utama dan sebab-sebab umum; sapientia meneliti sebab-
sebab inti dari segala sebab (sapientia est scientia quae considerat causas primas et
universales causas; sapientia causas primas omnium causarum considerat)”.2
Demikianlah istilah ‘filsafat’ berarti ilmu pengetahuan yang dicapai manusia
dengan akal pikirannya. Para filsuf/filosof mempelajari aneka persoalan alam semesta,
langit, bumi, manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, mineral dan lain sebagainya. Mereka
adalah kelompok orang-orang yang di zaman sekarang kita panggil sebagai saintis. Betul,
filsuf adalah saintis, karena waktu itu belum dikenal pemisahan dan pembedaan sempit
seperti yang kita kenal saat ini antara filsafat dan sains, antara filsuf dan saintis, antara
ahli biologi dan ahli geologi, antara ahli fisika dan ahli kimia. Bahkan sehingga zaman
Isaac Newton (1642-1727), kajian mengenai fenomena-fenomena alam yang kini kita
namakan ‘fisika’ masih disebut ‘filsafat alam’. Simaklah judul karya monumentalnya:
Philosophiae naturalis principia mathematica –prinsip-prinsip matematis dari filsafat
alam (1687). Adapun istilah ‘scientia’ dan turunannya (science, scienza, sains) dalam arti
yang sempit baru marak digunakan sejak dua abad terakhir ini.3
Sebagai akibatnya, istilah filsafat mengalami pengerucutan hingga akhirnya
dimaknai tak lebih dari sekadar kajian spekulatif terhadap asal-usul dan pokok-pokok
yang mendasari sesuatu. Lalu ketika dihubungkan dengan cabang ilmu tertentu, filsafat
kemudian diartikan sebagai perenungan dan uraian menyeluruh lagi mendalam tentang
persoalan-persoalan asasi, prinsip-prinsip dan hukum-hukum dalam ilmu yang
bersangkutan. Muncullah istilah filsafat ilmu matematika, filsafat ilmu fisika, filsafat
ilmu biologi, filsafat ilmu pendidikan, filsafat ilmu ekonomi, dan lain sebagainya. Situasi
ini bertambah buruk menyusul kampanye anti-metafisika yang dimotori pengusung ‘logical positivism’ alias ‘logical empiricism’ semacam Bertrand Russell, Alfred Jules
Ayer, Ludwig Wittgenstein, dan Rudolph Carnap.4
Bagi mereka, filsafat bukanlah ilmu tentang Tuhan, alam dan manusia yang kini sudah dikapling-kapling menjadi teologi, fisika, biologi, kimia, psikologi, antropologi, sosiologi, ekonomi dan sebagainya itu, akan tetapi uraian logis serta matematisasi bahasa yang digunakan oleh ilmuwan sebagai medium penyampai pengetahuan. Inti doktrin mereka tersimpul dalam ungkapan Wittgenstein yang masyhur itu: ‘Wovon man nicht sprechen kann, darüber muß man schweigen’.5
Namun, kalau kita ikuti pendapat mereka ini niscaya tokoh-tokoh semacam
Plato dan Aristoteles pun tak layak disebut filsuf, sebab hanya mereka sajalah yang
pantas digelar filsuf.
1 Aristoteles, Ta meta ta physika, terj. H. Tredennick (Cambridge, MA, 1980), I.i.17/982a.
2 Th. Aquinas, In Metaphysicam Aristotelis Commentaria, ed. M.-R. Cathala (Turin, 1926), I, ii. Bandingkan dengan definisi Christian Wolff dalam bukunya, Philosophia rationalis sive logica methodo scientifica pertractata et ad usum scientiarum atque vitae aptata. Praemittitur discursus praeliminaris de philosophia in genere (Frankfurt, 1728), §1: “filsafat adalah ilmu tentang segala sesuatu yang mungkin sebagaimana adanya, atau mengapa dan bagaimana yang mungkin itu mungkin (philosophia est scientia possibilium quatenus esse possunt, sive cur et quomodo sint possibilia).”
3Lihat Ann Blair, “Natural Philosophy” dalam The Cambridge History of Science: Early Modern Science, ed. Roy Porter et al., vol. (Cambridge: Cambridge University Press, 2006), 365ff.
4Lihat Logical Positivism in Perspectives
5Ludwig Wittgenstein, Logische-Philosophische Abhandlung, 7 = Tractatus Logico-philosophicus,7.
Senin, 29 Maret 2010
Be Your Self
Ketika seorang lelaki mengenal seorang wanita, dia kadang tidak menjadi dirinya sendiri. Terkadang dia akan luluh oleh peringatan yang sepele-sepele yang ditularkan si wanita dalam kesehariannya.
Perlu diketahui, lelaki itu penjual besi, wanita adalah penjual nasi
Perlu diketahui, lelaki itu penjual besi, wanita adalah penjual nasi
Senin, 18 Januari 2010
Pesan tokcer dari teman, Masykur Adi...
When I find my self in the time in trouble, Mother Marry comes to me speaking words a wisdom "let it be..."
Barangkali kata "let it be..." ini amat mujarab untuk orang seperti kita ini. Seperti misalnya kertas ujian (ketika itu pelajaran Pak S) hilang entah kemana? Dan menyebabkan seseorang tidak lulus tepat pada waktunya, alias mengulang di tahun berikutnya. Atau contoh yang lain, orang yang tidak bisa main sepak bola, tapi diangkat jadi pelatih. Yah, mungkin saja semua itu memang seharusnya dilalui.
Maka kata yang tepat untuk mengemukakan adalah "let it be...", biarkan semua itu terjadi. Kata calon mertua, "Hidup ini dijalanin dengan keyakinan, keimanan, keteguhan hati dan keep moving forward...!".
And last but not least, You'll never walk alone... Because you (2) and God (1) is enough!
Siman, 27 Oktober 2009
Adolf Van Dindol
Barangkali kata "let it be..." ini amat mujarab untuk orang seperti kita ini. Seperti misalnya kertas ujian (ketika itu pelajaran Pak S) hilang entah kemana? Dan menyebabkan seseorang tidak lulus tepat pada waktunya, alias mengulang di tahun berikutnya. Atau contoh yang lain, orang yang tidak bisa main sepak bola, tapi diangkat jadi pelatih. Yah, mungkin saja semua itu memang seharusnya dilalui.
Maka kata yang tepat untuk mengemukakan adalah "let it be...", biarkan semua itu terjadi. Kata calon mertua, "Hidup ini dijalanin dengan keyakinan, keimanan, keteguhan hati dan keep moving forward...!".
And last but not least, You'll never walk alone... Because you (2) and God (1) is enough!
Siman, 27 Oktober 2009
Adolf Van Dindol
Langganan:
Postingan (Atom)
